CERITA SECANGKIR KOPI INDONESIA

cerita secangkir kopi indonesiaMedan (BlendShop)Cerita secangkir kopi Indonesia pada zaman Pemerintahan Kolonial Belanda zaman dulu memilih Indonesia untuk dijajah karena salah satu maksudnya adalah untuk menanam kopi. Belanda memilih Indonesia karena letak geografisnya yang berada di khatulistiwa. Indonesia juga memiliki iklim tropis sehingga sangat cocok untuk pembudidayaan kopi.

Dengan struktur tanah yang baik, kebun kopi di Indonesia terbentang sangat luas dengan topografi wilayahnya. Wilayah pegunungan menjadi kombinasi yang sempurna untuk menanam kopi.

Indonesia memiliki karakteristik tanah yang berbeda dari wilayah yang satu ke wilayah yang lainnya dengan begitu Indonesia mempunyai 3 jenis kopi yang tersebar dan terbesar di dunia yaitu Biji kopi Arabika, Robusta, Liberica, dan Indonesia adalah negara penghasil terbesar kopi jenis robusta dan arabika.

Awal Mula Kisah Secangkir Kopi Indonesia

Pada tahun 1969 kopi pertama kali masuk ke Indonesia. Melalui Kota Batavia yang sekarang disebut DKI Jakarta kopi ini masuk yang dibawa oleh seorang Komanda Pasukan Belanda Adrian Van Ommen dari Malabar-India, setelah itu kopi ditanam kemudian kembangkan hingga saat ini.

Tak lama kemudian tanaman ini mati yang diakibatkan oleh banjir, ditahun 1969 didatangkan kembali bibit-bibit yang akan di budidayakan di sekitar Jakarta dan Jawa Barat antara lain di Priangan dan kemudian menyebar ke berbagai kepulauan di Indonesia seperti Sumatera, Bali, Sulawesi dan Timor-Timur (yang sekarang sudah lepas menjadi negara Timor Leste). VOC sangat mengandalkan komoditas kopi ini untuk barang dagangannya. Tahun 1706 Kopi Jawa diteliti oleh Belanda di Amsterdam, yang kemudian tahun 1714 hasil penelitian tersebut oleh Belanda diperkenalkan dan ditanam di Jardin des Plantes oleh Raja Louis XIV.

Indonesia melakukan eskpor kopi pertama kali ditahun 1711 oleh VOC dengan kurun waktu 10 tahun meningkat hingga 60 ton/tahun. Negara perkebunan kopi pertama di luar Arab dan Ethiopia adalah Hindia Belanda yang menjadikan perdagangan kopi ini di monopoli oleh VOC pada tahun 1725 sampai 1780. Pada saat itu kopi jawa sangat terkenal di eropa sehingga orang eropa menyebutnya secangkir jawa. Kopi Jawa adalah kopi terbaik du dunia hingga pertengahan abad ke 19.

Kopi di Jawa mengalami peningkatan produksi yang cukup signifikan, kopi arabika mencapai produksinya hingga 26.000 ton di tahun 1830 sampai 1834, setelah 30 tahun berjalan mengalami peningkatan kembali sebesar 79.600 ton dan puncak tertingginya ditahun 1880 sampai 1884 sebesar 94.400 ton.

Pada masa itu Kopi Arabika merupakan satu-satunya jenis kopi komersial yang di tanam di Indonesia. Hingga Indonesia mengalami kemunduran hebat terhadap perkembangan budidaya kopi akibat hama penyakit karat daun (Hemilia Vastrix) di tahun 1876.

Serangan penyakit ini tidak begitu hebat di ketinggian 1000m dari permukaan laut sehingga kopi arabika dapat bertahan hidup. Sisa tanaman kopi arabika ini masih bisa dijumpai di dataran yang tinggi seperti di daerah Bukit Barisan (Sumatera), lintong dan Sidikalang, Tanah tinggi toraja, Ijen (Jawa Timur), dan dataran tinggi Gayo di Nangroe Aceh Darusslam.

Pemerintah Belanda mencari cara untuk mengatasi serangan hama karat daun ini dengan mendatangkan Kopi Liberika ke Indonesia ditahun 1875. Ternyata jenis ini pun mudah diserang hama karat daun dan penikmat kopi jenis ini kurang di pasaran karen rasa asam yang di hasilkan. Tanaman ini tersisa pada saat ini dapat dijumpai di daerah jambi, Jawa Tengah dan Kalimantan.

Pada tahun 1990 Belanda tidak putus asa dengan keadaan tersebut sehingga pada akhirnya mereka mendatangkan kopi jenis robusta (Coffea Canephora). Dan tidak disangka tahan terhadap penyakit karat daun dengan syarat tumbuh dan cara pemeliharaannya yang ringan. Dan pada akhirnya Kopi Robusta ini cepat berkembang dan menyebar keseluruh daerah baik di Jawa, Sumatera maupun ke Indonesia bagian timur dengan ketinggian di bawah 1000m di bawah permukaan laut.

Sepeninggalan Pemerintahan Belanda dari Indonesia, perkebunan kopi ini terus tumbuh dan berkembang hingga saat ini. Di atas adalah kisah cerita secangkir kopi Indonesia.

sumber